Preface


Let's join together "facebook community", let's share experiences; write all your experiences here, please write in the language of your country. Send to :
datasolusindo@yahoo.co.id
Thanks

To join the "facebook Community" please click the following banner
Photobucket

Setelah sempat tertunda beberapa saat, akhirnya jadi juga blog tentang FACEEBOOK ini.
Ada yang aneh memang tentang blog dan logonya; dalam logo tertulis be a facebook community tetapi kenapa blog ini beralamat http://facebookmembers.blogspot.com/ ?
Karena kalah cepat dalam membuat blog !!! he ... he ... he ...
Ok.
Untuk apa blog ini ?
Blog ini selain sebagai ajang kumpul para facebooker maupun blogger, juga berisi tulisan tentang Facebook dan pernak-perniknya.
Dan bagi para facebookers yang ingin berpartisipasi, baik hanya ingin sekedar say hello dan memperkenalkan diri maupun ingin memberi ulasan/tulisan bisa menghubungi ke alamat email berikut ini :
datasolusindo@yahoo.co.id
Terima kasih.

Followers

Be-fact's Fan Box

Musik

Minggu, 27 Maret 2011

Belajar Mencintai "Tanah Air" dengan cara sederhana



Apabila pada agenda kegiatan sebelumnya FOKAL dan WALHI telah mengadakan berbagai kegiatan yang antara lain adalah : memungut sampah di sepanjang Malioboro – Kilometer Nol , membuat mainan dengan daur ulang sampah di Radio Anak Jogja , Praktek langsung berbagai daur ulang sampah di pusat pembuatan dan eksport  daur ulang sampah  ; maka pada hari Minggu tanggal 27 Maret 2011 yang lalu FOKAL dan WALHI mengadakan kunjungan di Jogja Green School yang berada disebelah utara/barat Jambon Resto. Adapun tujuan kunjungan ini adalah mengajak keluarga dan terutama adalah anaknya untuk lebih mengerti bagaimana kita bisa mencintai lingkungan ini dengan berpraktek secara langsung di area pertanian yang berada dilokasi Jogja Green School.
.
Waktu sudah menunjukkan jam 08.00 WIB saat saya tiba di Radio Anak Jogja; jam dimana seharusnya semua peserta sudah berkumpul dan berangkat ke Jogja Green School (JGS) apalagi bus pengantar juga sudah siap, namun dikarenakan hujan maka pada saat itu masih ada juga yang belum sampai. Dan daripada menunggu, saya putuskan untuk berangkat mendahului yang lain untuk berangkat ke JGS dengan menggunakan sepeda onthel kesayangan saya; hitung-hitung sambil cari keringat disela gerimis yang cukup menyegarkan untuk bersepeda …
Sesampai di JGS, ternyata disana saya sudah mendapati beberapa teman WALHI yang kebetulan langsung ke lokasi dikarenakan rumahnya yang dekat dengan lokasi, diantaranya adalah mas Priyo Catur yang asik duduk-duduk di rumah sasak yang dilingkari oleh rindangnya pohon-pohon besar; suasana yang sungguh asri, menyejukkan sehingga bila kita duduk-duduk sambil ngobrol disana seolah merasakan kesejukan dan kedamaian dunia ini …

“ Banyak orang memahami dan memaknai jiwa nasional kadang terlalu tinggi/muluk …” demikian kata-kata mas Priyo setelah berjabat tangan dan berbincang ringan seputar lokasi JGS yang asri. Perkataan mas Priyo tersebut tidak dengan nada tinggi melainkan dengan penuh kelembutan …. “ padahal kalau kita menyadari dan bersedia berpikir sederhana, kita bisa menjadi seorang yang  nasionalis hanya dengan cara yang sederhana pula …” lanjutnya …
“ … sebagai contoh adalah bahwa kita ajari saja sejak dini anak-anak untuk bertani; karena bertani pada esensinya adalah kita juga mencintai tanah dan air yang kita pijak dan kita buat untuk menanam padi …” imbuhnya
“… Pak Daniel bisa bayangkan betapa sekarang  Indonesia banyak meng-import berbagai bahan pangan dan produk pertanian dari luar negeri, padahal bahan pangan dan produk pertanian tersebut banyak tersedia atau lebih tepatnya bisa kita tanam di tanah kita yang memang terkenal subur dan beriklim stabil disepanjang tahun; jadi sebenarnya kita bisa untuk melakukan, tapi pertanyaannya mengana kita tidak melakukannya ? …” ..Ini adalah indikasi bahwa terjadi penggerogotan jiwa nasionalis kita oleh beberapa gelintir pejabat yang juga adalah pedagang yang harus kita lawan dengan mendidik anak-anak untuk peduli dan kembali bersedia bertani ..”
“ .. tapi mas Priyo, …” sergah/pancing saya” … petani khan sudah terlanjur dicap sebagai orang yang tidak bisa untuk berpenghasilan yang layak …”
“ betul apa yang dikatakan pak Daniel, pandangan itulah yang perlu kita luruskan, karena bertani sebenarnya juga bisa untuk mempunyai penghasilan yang layak bila kita pandai-pandai mencari cara yang jitu … “ jawab mas Priyo yang lebih senang kalau dipanggil dengan sebutan mas Tarzan yang juga sudah berencana membuat program yang diberi nama “Urban Farming” atau pertanian di kota yang adalah merupakan jalan untuk memenuhi sandang/pangan di perkotaan secara mandiri oleh person-person di rumahnya masing-masing yang pada prakteknya tidak akan memerlukan area yang luas, rumah seluas 100 m2 pun sudah lebih dari cukup; program yang juga merupakan implementasi dari menanamkan jira nasional.
“ … jadi pak Daniel, kalau kita tidak lagi mencintai bahkan meninggalkan tanah air kita sendiri; dalam artian tidak mempercayai bahwa tanah dan air kita bisa kita tanami tanaman pertanian dan pangan lain yang bisa menghidupi kita sendiri maka sedikit demi sedikit akan hancurlah jiwa nasionalis kita … “ pungkas mas Priyo/Tarzan
.
Percakapan santai tapi berisi tersebut terhenti saat rombongan dari FOKAL dan WALHI sudah datang dan berkumpul di aula berbentuk rumah gebyok yang memang dibuat secara sederhana
.
Pertemuan di aula tersebut diawali dengan beberapa sambutan dan juga diisi dengan bernyanyi bersama yang dibimbing oleh pengelola Radio Anak Jogja, Ketua Fokal dan bu Eni yang juga merupakan pemilik dari Jogja Green School.
Sesaat kemudian acara dilanjutkan dengan cara dibagi menjadi kelompok seperti biasa yaitu kelompok orang tua dan kelompok anak-anak. Kelompok orang tua diberi tugas membuat tas dari kertas koran yang didalamnya diberi potongan kardus agar tasnya  tetaqp kaku atau tidak menekuk saat diisi barang bawaan; sedangkan kelompok anak-anak diberi tugas menghias bekas gelas aqua dengan kreasi masing-masing namun disarankan untuk menempel potongan kertas dengan bentuk orang bergandengan yang menyimbolkan kerjasama/kebersamaan.

Seusai dua kelompok menyelesaikan tugasnya acara dilanjutkan dengan penjelasan tentang bagaimana cara menanam berbagai tumbuhan dan cara membuat pupuk serta kiat mengatasi hama yang diantaranya adalah dengan mebuat petisida yang terbuat dari rokok bekas yang di rendam dalam air seukuran gelas air mineral ; air hasil rendaman rokok bekas tersebut sehari setalah direndam bisa dipakai sebagai  petisida yang bisa disemprotkan untuk menghilangkan hama pada tanaman kita … he .. he ..  bagi yang merokok, ini adalah sebuah peringatan, bahwa bila Anda merokok, berarti Anda telah mengkonsumsi petisida …

Dan acara yang sangat  dinantikan anak-anak bahkan dinantikan semua pun tiba; yaitu menanam padi di sawah; sebuah acara yang membikin gelak tawa dan kemeriahan karena tingkah polah anak yang menanam padi dengan cara lucu karena asal menanam walau kadang diajari cara yang benar tapi tetap kembali acak sesuai keinginan anak masing-masing; dan memang untuk pertama kali mengajarinya adalah demikian; anak dibiarkan dulu senang dengan dunia sawah yang merupakan dunia baru; untuk kemudian setalah merasa fun dan enjoy, mereka diajari cara yang benar dengan  menertibkan semua anak sedikit demi sedikit.
Sebuah catatan bahwa Jogja Green School yang terdiri dari PAUD dan TK ini, selain pelajaran seperti di tempat lain yang sudah ditentukan, pelajaran dengan konsekwensi anak berkotor-kotor ria adalah juga merupakan pelajaran yang harus dimengerti oleh orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke JGS; untuk itu bu Eni sebagai pemilik JGS dalam menerima murid nya tidak pernah mereklamekan JGS tersebut melalui media apapun selain media dari para orang tua murid yang anaknya memang sudah berada di JGS, dalam artian biar yang masuk mendaftar mengetahuinya dari mulut ke mulut saja; sebab kalau dilakukan dengan cara membuat reklame ibu Eni/pengelola khawatir bila langsung banyak yang masuk, pendampingan/pendekatan pada anak didik yang bersifat personal dan perlu pendekatan khusus dalam mamaknai semua yang akan diajar dan dipraktekkan tidak akan begitu merasuk pada jiwa anak didik.
Satu lagi; karena belum tentu konsep ini disukai oleh masyarakat, sehingga akan sangat tidak efektif bila media digunakan sebagai cara untuk mencari / menerima pendaftaran anak didik baru.
.
Setelah pelajaran menanam padi usai dan anak-anak mencuci dan membersihkan badan serta berganti pakaian acara selanjutnya adalah makan bersama dengan santapan sederhana berupa nasi gudangan serta lauk telor dan “gereh” yang dimakan dengan memakai ajang daun pisang alias “di pincuk” …
Sungguh pas rasanya dengan suasanya, di alam pedesaan yang segar, makanan nasi gudangan yang hangat dalam “pincuk”, sebuah kenikmatan yang tiada tara …
.
Sebagai penutup, semua keluarga diberi buah tangan (oleh-oleh) berupa berbagai bibit tanaman yang sudah mulai menyemai yang dimasukkan ke dalam gelas kemasan air mineral yang diawal acara diberi hiasan oleh anak-anak, kemudian gelas-gelas kemasan air yang berisi bibit berbagai tanaman yang sudah mulai semai tersebut dimasukkan kedalam tas koran yang  pada awal acara dibuat oleh para orang tua ….
Pintar juga … he .. he …
.
Ok. Mas Tarzan, Bu Eni dan Bu Ning; terima kasih telah berkenan memberi saya dan teman-teman sebuah titipan, sebuah titipan untuk dibawa pulang kerumah masing-masing, titipan yang merupakan sebuah pekerjaan rumah, titipan yang sekaligus sebagai pesan dan pelajaran dengan makna yang sangat dalam, bahwa mulai hari ini kita diajak untuk belajar mencintai tanah air dengan cara yang sederhana …
.
Salam Nasionalisme yang sederhana, salam hijau lestari







Sebuah obrolan santai dengan mas Tarzan
tentang bagaimana cara mencintai tanah air secara sederhana
.

Anak-anak membuat hiasan di gelas kemasan air mineral
.
.
Salah seorang ibu yang memamerkan tas hasil kreasinya 
yang terbuat dari koran bekas


Asyiknya kesibukan masing-masing antara anak dan orang tuanya
.

Kegiatan yang paling ditunggu-tunggu 
berupa menanam padi sambil "kekeceh" ...
.
Mas Tarzan memberi bingkisan beberapa tanaman yang cepat berbuah
sebagai tambahan untuk lahan di Jogja Green School milik bu Eni
.

Contoh bibit yang dibagikan pada semua 
yang dimasukkan dalam wadah gelas air kemasan yang dihias

Mobil Jogja Green School dengan alamat email yang bisa dihubungi
.
.
(lukisan yang menggamrakan bahwa)
Anak-anak adalah kreator pelangi paling piawai ...


Sekolah alam:
Sekolah yang berwawasan lingkungan dan pendidikan Budi Pekerti
.

Komentar :

ada 0 komentar ke “Belajar Mencintai "Tanah Air" dengan cara sederhana”
 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra